Lidah Curhat — Tentang Terpuruk dan Rindu
Cerita tentang seorang pekerja yang terjebak dalam kerasnya dunia kerja modern, hingga akhirnya menyadari bahwa yang paling ia rindukan hanyalah pulang ke rumah.
Delapan Tahun
Perjalanan seorang pekerja yang lelah dengan dunia kerja dan memilih pulang ke rumah.
Delapan tahun.
Ya, itu waktu yang lama.
Bagiku yang sudah lama tidak kembali.
Kembali ke sesuatu yang disebut rumah.
Kampung halaman yang jauh dari hiruk pikuk agensi,
dari kreativitas yang diperas untuk membuat prompt sampah,
dan quick call dari orang-orang yang buta.
Buta akan waktu.
Seolah deadline tahi anjing mereka itu
menentukan masa depanmu.
Namaku Renaldi.
Sarjana.
Dari kampus Tier 3 di Solo.
Dalam pejaman mata, aku lelah.
Tidur terasa seperti santai
yang juga menyakitkan.
Akhirnya aku kembali.
"Bu, ini aku," ucapku dari gawai pintar.
"Iya, Di. Ada apa menelpon Ibu?"
jawab wanita paruh baya itu.
Dengan perasaan sesak bercampur bahagia, aku membalas,
"Libur ini aku mau pulang, Bu."
Ibuku terdiam sebentar,
seolah memproses kata-kata itu.
"Kenapa sekarang?"
"Aku terpuruk, Bu," jawabku pelan,
dengan mendung yang menggantung di mataku.
Usai percakapan itu,
kami hanya saling menanyakan kabar.
Hal-hal kecil yang tidak pernah sempat kami bicarakan.
Mencari motivasi untuk bertahan
bukan dari kerasnya perang
melainkan dari lembutnya perang
yang bernama dunia kerja.
Setiap hari alasan hidup berubah.
Bukan lagi berdasarkan cita-cita,
melainkan timeline perusahaan.
Aku lelah menjalani itu.
Hari-hari yang kulalui
hanya menjadi babu marketing.
Tanpa arah.
Kenapa?
Ya, benar.
Aku perlu makan.
Awalnya aku merasa bahagia.
Ketika pertama kali mendapatkan
sesuatu yang disebut pekerjaan.
Bahagia?
Tentu saja.
Aku tumbuh dari ribuan film tentang pemberontakan,
tentang pahlawan yang melawan sistem.
Menyelesaikan masalah.
Itulah yang kuimpikan.
Menjadi karakter pendukung sang tokoh utama,
bekerja di balik layar,
menjadi otak dalam program yang berbicara tentang kebebasan.
Begitu pikirku.
Kukira aku bisa menjadi orang
yang memberikan solusi.
Aku tidak berharap terlalu tinggi.
Tetapi setidaknya aku bisa mengambil peran.
Aku memang suka berada di belakang.
Namun sayangnya
dunia tidak seperti film.
Dunia ini kejam.
Taktik ideal sering berubah menjadi ancaman.
Pemikiran kiri tidak menghasilkan apa-apa.
Ambisi besar,
tetapi tanpa melihat fakta yang terjadi.
Demografi dan keadaan kaum itu diabaikan.
Jika kepala adalah benda mati,
maka kepala hanyalah balon
dan otak di dalamnya adalah batu.
Tidak ke mana-mana.
Hanya diam.
Tidak bergerak.
Aku lelah dengan kondisi ini.
Berputar seperti rantai makanan.
Saling mengikat.
Tetapi yang konsisten hanya satu:
lelah.
Masih terasa heroik ketika berjuang,
tetapi ujung-ujungnya sekarat.
Para pemegang kursi terlalu menutup mata.
Padahal mereka selalu berkata
bahwa visi merekalah yang membawa kemajuan.
Sepertinya aku tidak cocok lagi dengan pekerjaan ini.
Melakukan hal yang sama berulang kali,
tanpa hasil.
Pagi sampai malam.
Selalu siaga.
Dalam keadaan sayu.
Namun tetap berangkat.
Aku sudah selesai.
Aku rindu
masakan ibu.
Kupikir layanan antar makanan
akan membuatku tidak perlu memikirkan banyak hal.
Bahkan soal jodoh.
Namun demi masa depanku—
dan mungkin masa depan anakku nanti—
aku perlu belajar memasak.
Itulah yang kupikirkan
saat merindukan kampung halamanku.
Tubuhku panas.
Demam.
Aku ingin pulang.
Bagikan tulisan ini
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!